Harga minyak dunia mengalami lonjakan lebih dari 7 persen dalam perdagangan pada hari Kamis, 12 Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai efektivitas pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara maju dalam memenuhi kebutuhan global, terutama di tengah gangguan pasokan akibat konflik yang terus berkepanjangan di Timur Tengah.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak sebesar 7,5 persen, mencapai sekitar US$93,8 atau setara dengan Rp1.585.717 (berdasarkan kurs Rp 16.910 per dolar) per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude turut terangkat sekitar 7,7 persen, mencapai level US$99,1 atau sekitar Rp 1.675.315,23 per barel.
Kenaikan tajam pada harga energi ini mengikuti pengumuman dari Badan Energi Internasional (IEA) yang berencana untuk melepaskan cadangan minyak darurat dalam jumlah terbesar dalam sejarah. Sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat untuk menggelontorkan sekitar 400 juta barel minyak, yang mencatatkan penarikan terkoordinasi terbesar sejak lembaga ini didirikan setelah krisis embargo minyak pada tahun 1973.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengumumkan rencananya untuk melepaskan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve). Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa pengiriman minyak dari AS akan dimulai dalam waktu dekat, sebagai langkah untuk membantu menstabilkan harga energi di pasar global yang sedang bergejolak.
Analis energi dari MST Marquee, Saul Kavonic, mengungkapkan bahwa meskipun pelepasan cadangan strategis oleh IEA mencatat angka yang fenomenal, jumlah tersebut hanya mampu menutupi seperempat dari kebutuhan pasokan global yang mencapai 20 juta barel per hari. Menurutnya, keputusan untuk membuka cadangan minyak strategis ini mencerminkan tingginya risiko terjadinya kekurangan minyak di tingkat global.
Kavonic juga menambahkan bahwa IEA tidak optimis bahwa konflik akan segera berakhir. Penarikan stok saat ini harus diimbangi dengan pasokan di masa mendatang, yang dapat berimplikasi pada harga minyak yang lebih tinggi, bahkan setelah konflik mereda.
Kondisi ini membuat para pelaku pasar merasa tidak tenang, karena mereka beranggapan bahwa cadangan yang ada belum cukup untuk menutupi potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz, yang disebabkan oleh ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Pavel Molchanov, seorang Ahli Strategi Investasi Senior di Raymond James, mengungkapkan bahwa meskipun angka 400 juta barel terdengar besar, ini sebenarnya merupakan respons terhadap gangguan pasokan minyak terbesar yang terjadi sejak tahun 1970-an. “Kita membutuhkan banyak minyak, dan kita membutuhkannya dengan cepat,” ujarnya, mencerminkan urgensi situasi yang dihadapi saat ini.
➡️ Baca Juga: Ali Khamenei Meninggal, Ratusan Warga Iran Melakukan Aksi Protes Terhadap AS dan Israel
➡️ Baca Juga: Kemenperin Tegaskan PHK Panasonic Holdings Tidak Terjadi di Indonesia
