Jakarta – Harga minyak nabati di pasar global mengalami peningkatan signifikan untuk bulan ketiga berturut-turut pada Maret 2026. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed.
Data dari indeks harga pangan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menunjukkan bahwa kenaikan harga ini sejalan dengan tekanan pada pasokan global serta melonjaknya harga energi di seluruh dunia.
Indeks harga minyak nabati tercatat mencapai 183,1 poin pada bulan Maret, meningkat sebesar 8,9 poin atau sekitar 5,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Jika dilihat dari tahun ke tahun, kenaikannya mencapai 13,2 persen.
FAO mencatat bahwa lonjakan harga ini terjadi hampir di semua jenis minyak nabati utama yang ada di pasaran.
“Harga minyak sawit internasional kini berada pada level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022 dan telah melampaui harga minyak kedelai,” demikian kutipan dari laporan yang dirilis oleh Oil & Fats International pada 17 April 2026.
“Peningkatan ini sebagian besar mencerminkan dampak yang berkelanjutan dari lonjakan harga minyak mentah,” tambah laporan tersebut.
Harga minyak kedelai juga mengalami sedikit kenaikan, dipicu oleh ekspektasi meningkatnya penggunaan biofuel di Amerika Serikat. Namun, kenaikan ini agak terhambat oleh meningkatnya pasokan ekspor musiman dari kawasan Amerika Selatan.
Di sisi lain, harga minyak bunga matahari dan minyak rapeseed juga merangkak naik akibat ketatnya pasokan dari wilayah Laut Hitam, ditambah dengan meningkatnya permintaan untuk bahan baku energi seiring dengan tingginya harga energi global.
FAO juga mencatat bahwa semua kategori komoditas pangan utama, seperti serealia, daging, susu, dan gula, turut mengalami lonjakan harga, meski dengan tingkat yang bervariasi.
Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh faktor fundamental pasar, tetapi juga merupakan respons terhadap kenaikan harga energi yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Secara keseluruhan, indeks harga pangan FAO berada di angka 128,5 poin pada Maret 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dan menjadi peningkatan selama dua bulan berturut-turut. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan rekor tertinggi pada Maret 2022, level saat ini masih sekitar 19,8 persen lebih rendah.
Kenaikan harga minyak nabati ini berpotensi menambah tekanan inflasi pangan di tingkat global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan makanan.
➡️ Baca Juga: Chelsea Terpuruk Tanpa Arah, Dihancurkan MU dan Tren Tanpa Gol Berlanjut
➡️ Baca Juga: Strategi Mengatur Pola Hidup Sehat Harian untuk Meningkatkan Energi Beraktivitas
