Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus mengalami fluktuasi. Namun, pada perdagangan terbaru, rupiah ditutup dalam keadaan melemah.
Mengacu pada data terbaru dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, pada Selasa, 21 April 2026, kurs rupiah berada di angka Rp 17.142. Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 34 poin dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 17.176 pada perdagangan hari Senin, 20 April 2026.
Sementara itu, dalam perdagangan pasar spot pada Rabu, 22 April 2026, hingga pukul 09.02 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.158 per dolar AS. Ini menunjukkan penurunan sebesar 15 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.143 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi dan pasar uang, menyatakan bahwa meskipun menghadapi tantangan dari situasi geopolitik global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Pemerintah terus berupaya meningkatkan investasi dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sambil menyelaraskan kebijakan fiskal dengan pelaksanaannya untuk menciptakan kondisi ekonomi yang lebih baik dan berkelanjutan.
Saat ini, Indonesia sedang mengalihkan fokus dalam pembangunan dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Transformasi ini dilakukan dengan tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.
Dari sudut pandang kinerja ekonomi, Indonesia menunjukkan performa yang cukup kuat dibandingkan negara-negara G20 dan negara berkembang lainnya. Hal ini didukung oleh pertumbuhan yang solid, tingkat inflasi yang rendah, serta pengelolaan defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.
Ketahanan ekonomi ini tidak lepas dari peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berfungsi sebagai penyangga dalam melindungi daya beli masyarakat, sambil tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia berkomitmen untuk mengoptimalkan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam menggerakkan investasi di luar APBN.
Di tengah krisis energi yang dipicu oleh konflik global saat ini, penting untuk dicatat bahwa ketahanan Indonesia tidak hanya terbentuk dari langkah-langkah darurat, tetapi juga berakar pada reformasi struktural yang telah diterapkan jauh sebelum terjadinya krisis.
Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah mengingatkan kita bahwa efisiensi dalam proses dan perizinan sangat penting bagi ketahanan sektor energi. Dalam konteks ini, Indonesia mempercepat reformasi dengan menyederhanakan prosedur perizinan, membentuk tim kerja untuk mengatasi hambatan, serta mengurangi kendala dalam impor energi.
➡️ Baca Juga: Elf Bawa Rombongan Pemudik Kecelakaan di Majalengka, 3 Orang Tewas
➡️ Baca Juga: Jenazah Tiga Prajurit TNI UNIFIL yang Gugur di Lebanon Kembali ke Tanah Air
