Rusia Meningkatkan Perhatian Dunia, AS Resah dengan Perkembangan Terbaru

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan untuk merelaksasi sanksi ekonomi terhadap sejumlah volume minyak mentah dari Rusia. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan harga dan pasokan energi global setelah terjadi peningkatan ketegangan di Timur Tengah.

Sejak akhir Februari 2026, AS dan Israel telah meluncurkan serangkaian serangan udara gabungan terhadap Iran, yang mengakibatkan serangan balasan yang ditujukan pada pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini telah memicu situasi yang semakin kompleks dan berpotensi berbahaya.

Eskalasi konflik tersebut telah berdampak signifikan terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz, sebuah rute penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam dunia. Harga minyak di pasar global meroket seiring dengan berlanjutnya konflik yang telah memasuki minggu pertama, sementara akses ke selat tersebut tetap terhambat.

Minyak mentah Brent mengalami lonjakan harga sekitar 30%, melampaui US$94 (setara dengan Rp1,58 juta) per barel, mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sejak April 2020. Sementara itu, harga patokan minyak AS, WTI, meningkat lebih dari 38%, sempat menembus angka US$92 (sekitar Rp1,55 juta) per barel, yang merupakan lonjakan terbesar sejak awal boom minyak pada tahun 1985.

Dalam pernyataannya, Bessent menambahkan bahwa Washington DC telah memberikan “izin” kepada India untuk membeli minyak mentah Rusia guna mengatasi kekurangan pasokan minyak global. Ia juga menyatakan bahwa AS “mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya” untuk lebih meningkatkan pasokan energi ke pasar.

“Kami berkomitmen untuk terus mengumumkan langkah-langkah yang akan membantu pasar selama masa konflik ini. Kami juga berjanji bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal-kapal sipil melalui Selat Hormuz dalam satu atau dua minggu ke depan,” tegasnya, seperti dilansir dari Russia Today, pada tanggal 12 Maret 2026.

Setelah AS dan Uni Eropa menerapkan sanksi terhadap Moskow akibat eskalasi konflik di Ukraina pada Februari 2022, India dan China menjadi negara-negara yang paling banyak membeli minyak mentah dari Rusia.

Washington DC telah lama mendesak India untuk menghentikan impor minyak dari Rusia. Duta Besar AS untuk India, Sergio Gor, menyatakan bulan lalu bahwa pemerintah AS sedang menggunakan pembicaraan perdagangan untuk mendorong India agar lebih memilih untuk membeli minyak dari Venezuela sebagai alternatif.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengklaim bahwa India “setuju untuk menghentikan” impor dari Rusia. Namun, hingga saat ini, India belum pernah mengonfirmasi adanya komitmen tersebut, menandakan adanya ketegangan diplomatik yang masih tersisa dalam hubungan kedua negara.

➡️ Baca Juga: Update Terkini: Pameran Teknologi Jakarta Berjalan Penuh Antusiasme

➡️ Baca Juga: DualSense Charging Station Ini Bisa Fast Charge 2 Jam Penuh Tapi

Exit mobile version