Trump Tanggapi Kritik Soal Iran, Serang Paus Leo Karena Lemah dalam Penanganan Kejahatan

Presiden AS Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian setelah melontarkan kritik terhadap Paus Leo XIV. Dalam sesi wawancara dengan jurnalis di atas pesawat Air Force One pada Minggu, 12 April, Trump tidak ragu untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya atas pernyataan Paus yang menentang serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

“Kami tidak setuju dengan Paus yang berpendapat bahwa kepemilikan senjata nuklir itu tidak masalah. Dia adalah sosok yang tampaknya tidak memahami bahwa berurusan dengan negara yang ingin memiliki senjata nuklir untuk menghancurkan dunia adalah tindakan yang berbahaya,” ungkap Trump, sebagaimana dilaporkan oleh presstv.ir pada 13 April 2026.

Trump bahkan menyatakan secara tegas bahwa ia bukanlah pengagum Paus Leo.

“Saya bukanlah penggemar Paus Leo,” tambahnya.

Paus Leo, yang merupakan paus pertama dari Amerika, belakangan ini semakin vokal dalam mengkritik tindakan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Dalam pernyataannya pekan lalu, ia bahkan menyebut ancaman dan retorika Trump terhadap rakyat Iran sebagai sesuatu yang sangat tidak dapat diterima.

Pernyataan Trump kepada wartawan di Joint Base Andrews muncul tak lama setelah ia melontarkan kritik tajam terhadap Paus di akun media sosialnya, Truth Social.

“Paus Leo sangat lemah dalam menangani kejahatan dan juga tidak kompeten dalam kebijakan luar negeri,” tulis Trump.

Dia juga menegaskan bahwa ia tidak ingin memiliki seorang paus yang beranggapan bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir atau yang menganggap tindakan Amerika terhadap Venezuela sebagai hal yang buruk.

“Saya juga tidak menginginkan Paus yang berani mengkritik Presiden Amerika Serikat,” kata Trump.

Trump mengklaim bahwa Paus Leo tidak pernah masuk dalam daftar calon paus, dan hanya terpilih oleh Gereja karena latar belakangnya sebagai orang Amerika, yang dianggap sebagai strategi terbaik untuk menanggapi kepemimpinannya.

Agresi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, ditandai dengan serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat dan komandan tinggi Iran.

Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan hampir setiap hari menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah-wilayah yang diduduki Israel, serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan tersebut.

Pada 8 April, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Pakistan, setelah AS menerima proposal 10 poin yang diajukan oleh Iran.

➡️ Baca Juga: PBB Ajukan UU Parpol ke MK, Temukan Alasan di Baliknya

➡️ Baca Juga: Latihan Keseimbangan Tubuh untuk Meningkatkan Stabilitas dan Keamanan Aktivitas Sehari-hari

Exit mobile version