Krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di India diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama. Gangguan ini, yang dipicu oleh blokade di Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, dapat berlangsung hingga tiga sampai empat tahun ke depan.
Seorang pejabat senior dari pemerintah India menyatakan bahwa pemulihan pasokan LPG masih sangat tidak pasti, terutama berkaitan dengan kondisi fasilitas produksi di kawasan Teluk.
“Normalisasi pasokan LPG ini mungkin memerlukan waktu yang cukup lama, karena beberapa sumber pasokan yang vital telah dihentikan,” ujar pejabat tersebut, seperti yang dilaporkan pada 17 April 2026.
Masih ada ketidakjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan ‘dihentikan.’ Apakah hal ini mengindikasikan bahwa seluruh sumur produksi telah habis atau hanya mengalami penghentian sementara, belum sepenuhnya jelas. Namun, pemasok mengindikasikan bahwa kondisi ini bisa berlangsung setidaknya tiga tahun ke depan.
Ketidakpastian mengenai status fasilitas produksi menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemulihan pasokan LPG. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah gangguan ini disebabkan oleh kerusakan yang bersifat permanen atau hanya akibat dari konflik yang terjadi.
Informasi yang diperoleh dari pemasok global menunjukkan bahwa proses pemulihan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Hal ini menambah kekhawatiran mengenai stabilitas energi, terutama bagi negara-negara seperti India yang sangat bergantung pada impor.
India sendiri tergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan LPG domestiknya. Sekitar 60 persen konsumsi LPG di negara ini berasal dari impor, dan sebelum krisis ini, sekitar 90 persen pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Situasi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai jalur yang sangat penting dan sekaligus rentan terhadap gangguan akibat faktor geopolitik. Apabila distribusi mengalami gangguan, dampaknya akan langsung terasa pada pasokan LPG di dalam negeri.
Di samping itu, kapasitas penyimpanan LPG di India juga terbatas, hanya mampu memenuhi kebutuhan selama 15 hari. Dengan konsumsi tahunan mencapai 33 juta ton, tekanan terhadap pasokan menjadi semakin besar.
Dampak dari krisis ini sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Harga tabung LPG ukuran 14,2 kg untuk penggunaan rumah tangga meningkat sebesar 60 rupee, sedangkan harga tabung komersial naik hingga 115 rupee.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, pemerintah India mulai memprioritaskan distribusi LPG untuk kebutuhan rumah tangga dibandingkan sektor industri. Selain itu, interval pemesanan tabung juga diperpanjang untuk menghindari terjadinya kelangkaan.
Pemerintah setempat telah berupaya mengurangi ketergantungan pada kawasan Teluk. Proporsi impor dari wilayah tersebut berhasil ditekan dari 90 persen menjadi sekitar 55 persen. Namun, gangguan pasokan masih berada di kisaran 40 hingga 50 persen.
➡️ Baca Juga: Pembatasan Masa Jabatan Ketum Parpol Dua Periode Tidak Menjamin Pengurangan Korupsi
➡️ Baca Juga: Penanganan Pascagempa Malut-Sulut, Basarnas Kerahkan Tiga Kantor SAR untuk Tanggap Darurat
