Eks Direktur Kontraterorisme AS Terancam Dikriminalisasi Usai Kritik Perang Iran yang Keras

Mantan direktur kontra-terorisme Amerika Serikat, Joe Kent, kini menghadapi kemungkinan tindakan kriminal atau balas dendam politik setelah ia memilih untuk mundur dari posisinya di pemerintahan Donald Trump. Keputusan ini diambilnya seiring dengan meningkatnya ketegangan terkait keterlibatan AS dalam perang di Iran.
Dalam sebuah wawancara dengan podcaster konservatif Megyn Kelly, Kent mengungkapkan bahwa ia tidak merasa menyesal dengan langkah yang diambil, meskipun saat ini ia sedang dalam penyelidikan oleh FBI terkait tuduhan kebocoran informasi rahasia negara.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh The Guardian pada 22 Maret 2026, Kent menyatakan keyakinannya bahwa ia tidak melakukan kesalahan. Meskipun demikian, ia mengakui adanya kekhawatiran bahwa penegak hukum bisa berupaya melakukan kriminalisasi terhadapnya sebagai bentuk tekanan.
“Saya tidak bisa tidak merasa khawatir, karena kita semua sudah menyaksikan bagaimana FBI dan pemerintah menekan orang-orang yang berani bersuara,” ujarnya. “Namun, saya tetap yakin bahwa kebenaran dan fakta mendukung posisi saya.”
Kent menegaskan bahwa isu yang paling penting untuk dibahas adalah alasan di balik konflik ini dan cara untuk keluar dari situasi yang dihadapi. “Tantangan utama yang perlu dihadapi adalah memahami mengapa kita terlibat dalam perang dan bagaimana kita bisa menetapkan jalan keluar dari kondisi ini,” tambahnya.
Sebagai seorang veteran Angkatan Darat AS yang pernah bertugas dalam pasukan khusus, Kent mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direktur pusat kontra-terorisme nasional pada hari Selasa yang lalu. Sejak saat itu, ia aktif tampil di berbagai platform media konservatif, termasuk dalam acara yang dipandu oleh Tucker Carlson.
Dalam beberapa wawancara, termasuk yang dilakukan oleh Kelly dan Carlson, Kent mengungkapkan bahwa ia tidak bisa melanjutkan jabatannya “dengan hati nurani yang bersih” mengingat perang di Iran yang, menurutnya, dimulai tanpa persetujuan Kongres.
Dalam surat pengunduran dirinya yang menjadi perbincangan luas, Kent menyebut bahwa Iran “tidak memberikan ancaman langsung kepada negara kita” dan ia dengan tegas berpendapat bahwa perang ini dimulai karena pengaruh dari Israel serta lobi-lobi kuat di Amerika.
Respons Gedung Putih terhadap pernyataan tersebut adalah menyebut pandangan Kent sebagai pandangan yang “lemah dalam aspek keamanan.” Mereka menegaskan bahwa Iran adalah “ancaman yang sangat signifikan.”
“Jika ada orang yang tidak menganggap Iran sebagai ancaman, maka kami tidak ingin orang-orang seperti itu dalam pemerintahan kami,” ujar Trump dengan tegas.
Di sisi lain, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard turut menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap isi dari surat pengunduran diri Kent, menegaskan bahwa pandangan Kent tidak mencerminkan sikap yang seharusnya diambil dalam menghadapi masalah keamanan nasional.
➡️ Baca Juga: Bahlil Jelaskan Alasan Impor Bioetanol dari AS dan Spesifikasinya yang Diperlukan
➡️ Baca Juga: Presiden Barcelona Ungkap Alasan Gagalnya Comeback Lionel Messi di Klub



