Harga Minyak Dunia Meningkat Jadi US$114, Menjadi Aset Terbaik di Tengah Konflik Global

Harga minyak dunia kembali menjadi perhatian utama di kalangan pelaku pasar. Pada sesi perdagangan yang berlangsung pada Jumat, 27 Maret 2026, harga energi mengalami lonjakan signifikan yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada volatilitas pasar global.
Berdasarkan laporan terbaru, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 5,7 persen mencapai US$114,2, setara dengan sekitar Rp 1,93 juta per barel (dengan asumsi kurs Rp 16.980 per dolar AS). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan sebesar 6,18 persen, menembus angka US$100 atau sekitar Rp 1,69 juta per barel.
Kenaikan harga minyak ini berkaitan erat dengan konflik yang melibatkan Iran, yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Serangan terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap target-target di Iran, disertai dengan respon Iran yang menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk, telah mengganggu rantai pasokan komoditas di tingkat global.
Sejak akhir Februari, harga minyak Brent telah meningkat sekitar 45 persen, dengan kenaikan lebih dari 50 persen sepanjang bulan Maret 2026. Lonjakan ini bahkan melampaui rekor bulan September 1990, di mana harga minyak Brent meningkat sebesar 46 persen.
Laporan dari The Guardian menyatakan bahwa harga minyak Brent pernah mencapai US$119,50 per barel, level tertinggi yang terlihat sejak Juni 2022. Kenaikan ini terjadi setelah Iran hampir menutup Selat Hormuz, jalur krusial yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia.
Di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, minyak telah muncul sebagai salah satu aset dengan performa terbaik di pasar global, mengungguli instrumen investasi lainnya yang justru tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian.
Sementara itu, emas tidak dapat memenuhi reputasinya sebagai aset aman di tengah inflasi. Harga emas spot tercatat turun hampir 15 persen sejak awal Maret 2026, mendekati penurunan bulanan terburuk yang tercatat pada tahun 2008.
Beberapa investor mungkin terpaksa menjual emas untuk menutup kerugian atau memenuhi panggilan margin (margin call) pada posisi lain di pasar. Konsekuensi dari konflik berkepanjangan ini diperkirakan akan tetap menjadi faktor pendorong utama harga minyak dalam waktu dekat, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Meskipun sempat muncul upaya untuk meredakan ketegangan, termasuk pernyataan dari Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan negosiasi dengan Iran, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tekanan di pasar masih terus berlanjut.
➡️ Baca Juga: Suporter Malaysia Protes Keras Setelah Timnas Kalah 0-3 dari Vietnam
➡️ Baca Juga: Strategi Produktif Harian untuk Menyelesaikan Tugas dengan Cepat dan Minim Stres




