Mojtaba Khamenei Mengancam untuk Menyerang Pangkalan Militer AS Secara Terencana

Mojtaba Khamenei, dalam pernyataannya yang pertama setelah menjabat sebagai Pimpinan Tertinggi Iran, menegaskan posisi tegasnya terhadap Amerika Serikat. Pada tanggal 12 Maret 2026, ia mengungkapkan bahwa selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai bentuk tekanan bagi pihak AS. Pernyataan ini mencerminkan sikap agresif Iran di kawasan yang strategis tersebut.
Dalam penyampaian yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Khamenei memperingatkan bahwa jika pangkalan militer AS terus beroperasi di wilayah tersebut, maka kemungkinan serangan terhadap mereka akan meningkat. Ini menunjukkan keseriusan Iran dalam mengambil langkah-langkah defensif terhadap kehadiran militer AS di kawasan itu.
Khamenei menegaskan bahwa pihak AS seharusnya segera menutup pangkalan-pangkalan tersebut. Ia menilai bahwa klaim Amerika mengenai upaya menciptakan keamanan dan perdamaian hanyalah sebuah kebohongan besar. Pernyataan ini diambil dari laporan yang mencatat pernyataan Mojtaba pada 13 Maret 2026.
Lebih lanjut, Khamenei berjanji akan menuntut balas bagi mereka yang kehilangan nyawa dalam konflik. Ia menekankan bahwa Iran berhak untuk mendapatkan kompensasi dari musuh-musuhnya. Jika tuntutan ini diabaikan, ia menyatakan bahwa Iran akan mengambil tindakan untuk menghancurkan aset-aset musuh secara setara.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian dari tindakan balasan tersebut telah mulai terlihat, dan hal ini akan terus menjadi prioritas utama bagi pemerintahannya. Khamenei berkomitmen untuk memastikan bahwa tindakan balas dendam yang lebih besar akan dilaksanakan.
Dalam konteks kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba menyatakan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan betapa jujurnya sang ayah dan karakter luar biasanya. Ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh ayahnya.
Mojtaba Khamenei memperlihatkan rasa hormatnya ketika menyaksikan jasad ayahnya setelah menjadi syahid. Ia menggambarkan sosok ayahnya sebagai simbol keteguhan, dengan tinju yang masih terkatup hingga akhir hayatnya. Hal ini menggambarkan betapa dalamnya penghargaan dan rasa kasihnya terhadap sang pemimpin.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan komitmennya bahwa Iran tidak akan mundur dalam menghadapi tantangan, dan akan melawan dengan segala kekuatan yang ada. Khamenei menegaskan bahwa mereka akan membalas bukan hanya kematian Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga setiap warga yang telah kehilangan nyawa dalam pertempuran.
“Pembalasan atas darah para syuhada tidak akan pernah kami lupakan,” tegasnya, menunjukkan betapa seriusnya ia dalam menanggapi kehilangan yang dialami oleh bangsanya.
Khamenei juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kelompok-kelompok bersenjata yang menjadi sekutu Iran di berbagai wilayah, termasuk di Lebanon, Irak, dan Yaman. Ini menunjukkan bahwa ia mengakui peran penting dari aliansi tersebut dalam memperkuat posisi Iran di kancah internasional.
“Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para pejuang dari ‘Front Perlawanan’,” ujarnya, merujuk kepada kelompok Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, serta kelompok sekutu di Irak. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dari sekutu-sekutu ini sangat penting bagi strategi Iran dalam menghadapi ancaman eksternal.
➡️ Baca Juga: Vivo V70 FE Hadir dengan Fitur AI Canggih, Fast Charge 90W, Baterai Besar, dan Harga Rp6 Jutaan
➡️ Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mencapai Hampir US$100 Saat IEA dan AS Lepas Ratusan Juta Barel




