El Nino Diprediksi Pecahkan Rekor Terkuat Sejak 1950, Ancaman Panas Ekstrem Global Meningkat

Jakarta – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah mengeluarkan peringatan mengenai fenomena El Nino yang mengalami penguatan yang sangat cepat, yang diprediksi akan memecahkan rekor suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Keadaan ini berpotensi meningkatkan risiko terjadinya panas ekstrem, kekeringan, hingga banjir di berbagai belahan dunia di tengah tren pemanasan global yang terus berlanjut.
Dalam laporan Iklim Musiman Global Terkini, badan meteorologi PBB tersebut memperkirakan bahwa fenomena El Nino hampir pasti akan terjadi, dengan probabilitas mendekati 100 persen, dan diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2027. Puncak dari fenomena ini diprediksi akan terjadi sekitar bulan Desember 2026.
“El Nino telah terbentuk dengan sangat kuat dan mengalami penguatan yang pesat,” ungkap Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, pada Jumat (9/10/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak tahun 1950. WMO memperkirakan anomali suhu permukaan laut rata-rata di wilayah Nino 3,4, yang terletak di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik, akan mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius di atas normal selama periode Oktober hingga Desember 2026. Angka ini dapat menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat.
Sebagai perbandingan, rekor sebelumnya terjadi dengan suhu 2,6 derajat Celsius di atas normal pada periode November 2015 hingga Januari 2016. Jika perkiraan terbaru ini terwujud, peningkatan El Nino kali ini akan melampaui anomali suhu laut yang tercatat pada periode tersebut.
WMO mencatat bahwa fenomena ini dapat menyebabkan lonjakan suhu di atas rata-rata di banyak wilayah di dunia dan merubah pola curah hujan secara drastis. Efek yang ditimbulkan tidak hanya berupa kenaikan suhu, tetapi juga perubahan distribusi hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah.
Kondisi yang lebih basah dari biasanya diperkirakan akan terjadi di kawasan Tanduk Besar Afrika, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur, utara Semenanjung Arab, sebagian Amerika Utara, serta wilayah tenggara Amerika Selatan.
Di sisi lain, kondisi yang lebih kering dari biasanya diprediksi akan melanda anak benua India, bagian selatan Amerika Tengah, beberapa wilayah Karibia, dan bagian barat laut Amerika Selatan. Perbedaan pola cuaca ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di beberapa kawasan, sementara di wilayah lain, ancaman hujan berlebih dan banjir dapat menjadi masalah serius.
➡️ Baca Juga: Kronologi Gugurnya Dua Prajurit TNI dalam Misi Pengawalan UNIFIL di Lebanon
➡️ Baca Juga: Program Sekolah Energi Berdikari Pertamina NRE Sediakan Energi Surya dan Air Bersih di SD Gunung Bayu Simalungun




