IHSG Diprediksi Bergerak Sideways Hari Ini, Perhatikan Faktor Global yang Mempengaruhi Investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprediksi akan bergerak secara sideways pada perdagangan hari ini, Senin (12/10/2026).
Para pelaku pasar masih memperhatikan perkembangan situasi ekonomi global serta meningkatnya ketidakpastian yang terjadi di ranah geopolitik.
Pada sesi awal perdagangan, IHSG menunjukkan indikasi penguatan, namun berbalik melemah pada pukul 09.55 WIB. Indeks tercatat turun sebesar 29,49 poin atau 0,48 persen ke level 6.064,27.
Sementara itu, indeks LQ45 yang mencerminkan performa 45 saham unggulan juga mengalami penurunan, melemah 3,10 poin atau 0,52 persen menuju posisi 598,57.
Kepala Riset di Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memprediksi bahwa IHSG akan berada dalam fase konsolidasi sepanjang minggu ini. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap beberapa risiko yang mampu memengaruhi gerak pasar saham.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam kisaran 6.000 hingga 6.215 selama pekan ini. Namun, dampak dari kenaikan harga minyak serta penyebaran saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (HSC) perlu diwaspadai,” ungkap Ratna dalam analisisnya.
Dari sisi berita internasional, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Rusia telah sepakat untuk menyuplai bahan bakar diesel ke pasar AS dan pasar global.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu elemen eksternal yang menjadi perhatian investor di tengah dinamika sektor energi yang terjadi saat ini.
Indeks sentimen konsumen yang dirilis oleh University of Michigan juga menunjukkan adanya penurunan. Berdasarkan estimasi awal, indeks tersebut tercatat turun menjadi 46,3 pada Oktober 2026, yang merupakan level terendah sejak Mei 2026.
Investor juga mengamati situasi di Timur Tengah, dimana serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap bandara di Arab Saudi kembali menambah ketegangan geopolitik. Eskalasi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026.
Pertemuan ini digelar di tengah tantangan seperti tingginya biaya energi, utang publik yang besar, gejolak di pasar obligasi, serta peningkatan suku bunga.
“Pasar akan lebih memperhatikan pidato yang disampaikan oleh pejabat bank sentral di seluruh dunia, serta laporan World Economic Outlook terbaru dari IMF yang akan dirilis pada hari Selasa (13/10),” tambah Ratna.
Dari Amerika Serikat, investor saat ini menanti rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dan inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang akan diumumkan dalam pekan ini.
➡️ Baca Juga: Ustaz Das’ad Latif Tegaskan Bahaya Memaksakan Gaya Hidup yang Tidak Realistis
➡️ Baca Juga: Panduan Lengkap Menjadi Penonton Sepak Bola Cerdas dan Memahami Taktik Permainan




