RI Mengimpor BBM dari Negara dengan Stok Lebih untuk Penuhi Kebutuhan Nasional dalam 18-20 Hari

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menerapkan strategi pencarian, atau ‘hunting’, untuk menemukan negara-negara yang memiliki surplus stok bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diambil demi memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri tetap terjaga.
“Usaha yang kami lakukan saat ini adalah hunting untuk memastikan agar pasokan nasional tetap ada,” ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam acara Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang disiarkan melalui kanal resmi Kementerian Dalam Negeri.
Laode menjelaskan bahwa pendekatan ini berbeda dari metode pengadaan BBM yang sebelumnya dilakukan melalui lelang. Perubahan metode ini disebabkan oleh minimnya peserta lelang setelah terjadinya konflik di Timur Tengah.
Ia menambahkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 25 persen dari sumber impor BBM sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada awal tahun 2026.
“Dulu, Pertamina melakukan lelang untuk pengadaan BBM, namun saat ini, minimnya peserta membuat kami harus mencari negara-negara dengan kelebihan stok,” jelas Laode.
Akibat dari kondisi ini, Laode memperingatkan bahwa harga BBM yang diperoleh melalui metode hunting ini mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan pengadaan melalui cara konvensional.
“Kita harus mencari negara-negara dengan kelebihan stok. Harganya berpotensi lebih tinggi daripada harga yang diperoleh melalui pengadaan biasa,” tambah Laode.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa metode hunting ini masih memungkinkan Indonesia untuk menjaga ketahanan pasokan BBM dalam rentang waktu 18 hingga 20 hari ke depan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) masih berada pada tingkat minimal yang aman, yakni antara 18 hingga 21 hari, di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi.
Lebih lanjut, Bahlil menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun ini. Kebijakan ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi akan mengalami penyesuaian sesuai dengan fluktuasi harga pasar. Kenaikan atau penurunan harga BBM nonsubsidi bergantung pada kondisi pasar global.
“Harga BBM nonsubsidi akan mengikuti harga pasar. Jika harga pasar global meningkat, maka ICP (Indonesian Crude Price) juga akan naik. Sebaliknya, jika ICP turun, harga BBM nonsubsidi pun akan disesuaikan,” tutup Bahlil.
➡️ Baca Juga: Ajax Targetkan Talenta Muda Indonesia untuk Bergabung ke Tim di Belanda
➡️ Baca Juga: Big Match Liga Champions 2026/2027: Jadwal Pertandingan dan Analisis Lengkap




