Seruan Boikot Konser ‘Till The Whole World Knows’ Terkait Dugaan Agenda Zionisme di Medsos

Rencana konser bertajuk “Till The Whole World Knows” di Jakarta kini menjadi sorotan tajam setelah sejumlah pengguna media sosial menyerukan aksi boikot. Desakan ini muncul seiring dugaan bahwa konser tersebut memiliki keterkaitan dengan dukungan bagi Israel serta agenda Christian Zionism.
Konser yang akan menampilkan Israel Houghton bersama grup musik Israel & New Breed dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026. Sebelumnya, isu seputar acara ini telah menarik perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang meminta penyelenggara untuk memberikan penjelasan yang jelas mengenai tujuan dan pihak-pihak yang terlibat dalam konser tersebut.
Seruan untuk memboikot konser semakin hangat diperbincangkan setelah munculnya unggahan dari akun Instagram @oi_filystin. Dalam postingan tersebut, pemilik akun menyoroti adanya perubahan informasi terkait penyelenggaraan konser yang dianggap meragukan.
Akun @oi_filystin mencermati poster acara yang sebelumnya dibagikan oleh akun @cahayamusicfestival. Diungkapkan bahwa materi promosi tersebut kini tidak lagi dapat ditemukan, menimbulkan pertanyaan di kalangan publik.
“Setelah viral gerakan seruan boikot, postingan dari @cahayamusicfestival yang memuat flyer rangkaian tur @israelhoughton bersama grup musik ISRAEL AND NEW BREED (sekarang dikenal sebagai NEW BREED) saat ini telah dihapus,” tulis akun tersebut yang dikutip pada Sabtu (3/10/26).
Dalam unggahan itu juga terdapat informasi mengenai perubahan jadwal acara, yang awalnya direncanakan pada 15 Oktober dan kemudian diundur menjadi 24 Oktober. Selain itu, lokasi acara juga disebutkan mengalami pergeseran.
“Perubahan tanggal dari 15 Oktober ke 24 Oktober dan lokasi dari Kasablanka Hall berpindah ke @themusichall.official di Jakarta Selatan,” tulisnya lebih lanjut.
Namun, banyak detail mengenai alasan di balik perubahan jadwal, lokasi, serta penghapusan materi promosi tersebut masih belum jelas. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah langkah-langkah tersebut merupakan strategi untuk menghindari kerugian atau ada alasan lain di baliknya.
Akun tersebut juga mengaitkan kontroversi konser ini dengan gerakan penolakan yang terjadi di Malaysia. Dalam unggahan tersebut, terdapat flyer dari akun @bds_malaysia yang menyatakan penolakan terhadap rangkaian tur Israel & New Breed.
“Dengan adanya petisi dari flyer akun @bds_malaysia yang menegaskan penolakan terhadap rangkaian tur ‘ISRAEL AND NEW BREED’ dengan Musisi @israelhoughton, kita sebagai rakyat Indonesia harus melakukan hal yang sama dengan Malaysia,” seru @oi_filystin.
Isu boikot konser ini mencuat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai keterkaitan antara seni, budaya, dan politik. Banyak yang beranggapan bahwa konser semacam ini menjadi sarana untuk menyebarkan agenda yang lebih besar, yaitu dukungan terhadap Israel, yang dalam pandangan beberapa kelompok, terkait dengan isu-isu yang lebih luas di Timur Tengah.
Reaksi masyarakat terhadap konser ini sangat beragam, dengan beberapa pihak mendukung dan lainnya menentang. Pendukung konser berargumen bahwa musik seharusnya menjadi jembatan perdamaian, sementara penolak khawatir akan munculnya pengaruh negatif dari acara ini.
Dalam konteks ini, penting bagi penyelenggara konser untuk memberikan penjelasan yang transparan mengenai niat sebenarnya di balik acara tersebut. Klarifikasi yang jelas bisa membantu meredakan ketegangan dan menghindari kesalahpahaman di kalangan masyarakat.
Sementara itu, boikot konser merupakan salah satu bentuk protes yang umum dilakukan di berbagai negara. Gerakan ini sering kali digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kebijakan atau tindakan suatu negara yang dianggap tidak adil.
Di Indonesia, seruan untuk boikot konser ini juga mencerminkan perasaan solidaritas dengan masyarakat Palestina yang tengah berjuang dan menghadapi berbagai tantangan. Dengan mengaitkan konser ini dengan dukungan terhadap Israel, para penolak merasa bahwa mereka turut berpartisipasi dalam perjuangan yang lebih besar.
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menyikapi konser-konser internasional yang diadakan di tanah air. Dengan meningkatkan kesadaran akan isu-isu global, diharapkan mampu mendorong diskusi yang lebih mendalam mengenai dampak dari acara-acara tersebut di masyarakat.
Bagi individu yang terlibat dalam gerakan boikot, penting untuk menyampaikan pesan dengan cara yang konstruktif. Dialog yang terbuka dan informatif dapat membantu menjelaskan pandangan dan alasan di balik sikap penolakan terhadap acara tersebut.
Sementara akan ada perdebatan yang berlanjut mengenai konser ini, satu hal yang pasti adalah bahwa isu yang diangkat telah memicu perhatian masyarakat. Respons terhadap konser ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik dan memobilisasi aksi.
Ke depannya, penyelenggara konser semacam ini perlu lebih peka terhadap sensitivitas masyarakat dan memastikan bahwa acara yang mereka gelar tidak menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Dengan demikian, konser bisa menjadi sarana untuk merayakan keragaman dan kedamaian, bukan sebaliknya.
➡️ Baca Juga: Israel Menolak Gencatan Senjata dengan Lebanon, Situasi Meningkat di Wilayah Tersebut
➡️ Baca Juga: Snapdragon 8 Elite vs Dimensity 9400 hasil benchmark kagetin semua orang pecah




