UEFA dan Infantino Berkonflik, Rencana Perebutan Kursi FIFA 1 Muncul ke Permukaan

Konfederasi Sepakbola Eropa, UEFA, tampaknya sedang melakukan lebih dari sekadar mempertahankan posisinya dalam dunia sepakbola. Organisasi ini dilaporkan tengah merencanakan langkah strategis untuk mengubah struktur kepemimpinan FIFA, yang saat ini dipimpin oleh Gianni Infantino.
Sikap UEFA terhadap Infantino semakin terlihat jelas setelah munculnya debat publik mengenai rencana penjualan saham Piala Dunia yang diusulkan oleh presiden FIFA tersebut. Meskipun rencana itu akhirnya dibatalkan, kritik dan tekanan terhadap Infantino sudah terlanjur mengemuka.
UEFA menjadi salah satu suara paling tegas yang menolak inisiatif tersebut. Negara-negara anggota UEFA juga tampak solid dalam mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap langkah-langkah yang diambil oleh Infantino.
Perlawanan ini semakin jelas ketika UEFA, bersama dengan AFC dan CONCACAF, menerbitkan surat yang mempertanyakan kepemimpinan Infantino. Namun, UEFA tidak hanya berhenti di situ dalam upayanya menggoyang kursi presiden FIFA.
Berdasarkan laporan dari The Independent, UEFA sedang mempertimbangkan gagasan untuk mengimplementasikan sistem rotasi dalam posisi Presiden FIFA yang melibatkan enam konfederasi di bawah naungan FIFA.
Jika ide ini terwujud, masa jabatan Presiden FIFA tidak akan lagi didominasi oleh satu wilayah untuk waktu yang lama. Kursi kepemimpinan FIFA diharapkan akan secara bergantian diisi oleh perwakilan dari UEFA, AFC, CONCACAF, CONMEBOL, CAF, dan OFC.
Wacana ini dikabarkan dibahas di Salzburg, Austria, saat sejumlah tokoh penting dari FIFA dan UEFA berkumpul dalam rangkaian acara Piala Super Eropa.
Sistem rotasi kepemimpinan bukanlah hal baru dalam konteks organisasi internasional. Pendekatan serupa telah diterapkan di berbagai lembaga multinasional dan badan olahraga untuk mencegah terjadinya konsentrasi kekuasaan.
Rencana UEFA ini tidak hanya menyentuh pergantian posisi presiden FIFA, tetapi juga berupaya memperkuat struktur administrasi yang berada di sekitar posisi kepresidenan tersebut.
Inisiatif ini dianggap sebagai langkah untuk mengurangi konsentrasi kekuasaan di tangan seorang Presiden FIFA dan menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara enam konfederasi yang ada.
Meskipun tekanan terhadap Infantino semakin meningkat, posisi pria asal Swiss ini belum sepenuhnya terancam.
Infantino masih memiliki dukungan dari sejumlah anggota FIFA, termasuk PSSI dan beberapa federasi sepakbola di kawasan Arab.
➡️ Baca Juga: Chelsea Dihukum Denda Rp242,6 Miliar oleh Premier League, Berpotensi Dilarang Transfer
➡️ Baca Juga: Laptop Bisnis Premium dengan Garansi Layanan Onsite untuk Perbaikan di Rumah Anda




