Rocky Gerung Pertahankan Sikap Kritis Sebagai Wantimpres untuk Kemandirian Berpikir

Jakarta – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung menegaskan bahwa langkahnya untuk bergabung dengan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tidak akan mengubah sikap kritis yang menjadi ciri khasnya. Ia tetap berkomitmen untuk menjaga tradisi kebebasan berpikir dan memberikan kritik yang konstruktif terhadap kebijakan pemerintah.
Rocky menyadari bahwa tidak sedikit pihak yang merasa kecewa dengan keputusannya untuk merapat ke pemerintahan. Namun, ia menegaskan bahwa sifat kritis seseorang tidak ditentukan oleh posisinya, melainkan oleh konsistensi dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang diyakini.
“Menjadi kritis itu bukan soal seberapa jauh. Kritik tidak bisa diukur dalam angka, karena pada dasarnya kritik itu adalah sebuah pernyataan. Ada atau tidaknya kritik, itulah yang penting,” ujar Rocky saat berbicara dalam acara yang membahas dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa cara berpikirnya tetap berasal dari lingkungan akademis. Meskipun sebelumnya ia menyampaikan pandangannya dari luar kekuasaan, kini ia berencana untuk membawa perspektif tersebut guna menguji kebijakan dari dalam.
“Saya bukan perwakilan suara mahasiswa, tetapi saya ingin mereka memahami bahwa saya tidak akan mengkhianati nilai-nilai yang saya anut. Saya berasal dari komunitas akademik,” tegasnya.
Rocky menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto memperkenalkannya sebagai representasi dari komunitas pemikir akademis di Wantimpres, bukan sebagai wakil dari organisasi politik, kelompok agama, atau kalangan purnawirawan.
“Seorang filsuf akademis adalah sosok yang konsisten, tidak akan berubah,” tegasnya, menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip akademis.
Ia juga mengibaratkan kritik sebagai alat yang dibawa dari luar untuk membongkar struktur kekuasaan dari dalam. Menurutnya, alat yang berasal dari sistem itu sendiri sering kali tidak cukup untuk mengoreksi masalah mendasar yang ada.
“Alat yang ada di tangan raja tidak akan mampu digunakan untuk merobohkan istana raja. Oleh karena itu, diperlukan alat dari luar. Inilah yang saya sebut kritik radikal,” ungkapnya.
Dalam analisisnya, Rocky menggambarkan bagian mana yang perlu dibongkar dengan analogi dari ilmu kedokteran. Sel-sel yang rusak seharusnya menghentikan diri untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel-sel yang sehat.
“Namun ada sel yang tidak mau mengenali kondisinya dan justru merusak sel-sel baik lainnya. Hal ini serupa dengan perilaku koruptor zaman sekarang,” ujarnya, menggambarkan situasi dengan jelas.
Dengan pernyataan-pernyataan ini, Rocky Gerung menegaskan pentingnya menjaga sikap kritis dalam posisi apapun. Ia ingin memastikan bahwa suara akademik tetap terjaga dan berkontribusi dalam pembangunan kebijakan yang lebih baik bagi masyarakat.
➡️ Baca Juga: Tingkatkan Literasi Keuangan Anda dengan Strategi Investasi Saham yang Efektif
➡️ Baca Juga: Misteri Mutilasi Pegawai Ayam Goreng di Bekasi Akibat Menolak Ajak Curi Mobil Bos




