Bupati Manggarai Menghadapi Tantangan Dalam Penanganan Trauma Pengungsi Gempa, Memerlukan Dukungan

Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah menghadapi kesulitan dalam menangani aspek psikososial bagi warga yang mengungsi akibat gempa bumi yang terjadi pada pertengahan Agustus 2026. Keterbatasan dalam sumber daya menjadi salah satu hambatan utama dalam memberikan dukungan yang memadai kepada para pengungsi yang mengalami trauma.
“Dalam hal penanganan trauma, kami harus mengakui bahwa kapasitas kami terbatas,” tutur Herybertus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, pada malam Minggu (18/10/2026).
Untuk mengatasi tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai sangat memerlukan dukungan dari berbagai pihak agar layanan pendampingan psikologis dapat menjangkau lebih banyak warga yang terdampak. Saat ini, sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah berperan aktif dalam membantu pemulihan psikologis para pengungsi.
“Saat ini, kami mendapatkan bantuan dari beberapa perguruan tinggi dan LSM dalam upaya penanganan psikosial bagi warga yang terdampak,” jelas Herybertus.
Meskipun demikian, fokus pendampingan yang ada saat ini masih terbatas pada anak-anak usia sekolah. Sementara itu, orang dewasa juga sangat memerlukan perhatian, terutama mengingat kehilangan tempat bergantung secara ekonomi akibat gempa bisa menambah beban psikologis mereka.
Kelompok lanjut usia menjadi salah satu yang paling rentan dalam situasi ini. Herybertus menekankan perlunya perhatian khusus terhadap mereka, mengingat peluang mereka untuk kembali bekerja dan memulihkan kehidupan lebih terbatas.
“Kaum lanjut usia berada dalam situasi yang lebih rentan, karena mereka sudah tidak dapat berkontribusi secara produktif,” tambah Herybertus.
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan lanjut usia akibat keputusasaan atas ketidakpastian masa depan mereka.
“Ini tentu memerlukan penanganan khusus dari tenaga profesional,” kata Bupati.
Herybertus berharap agar berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM, dapat bersinergi untuk membantu Pemkab Manggarai dalam menangani aspek psikososial bagi seluruh warga yang terdampak, dari anak-anak hingga lanjut usia.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Pemkab Manggarai, lebih dari dua bulan pasca-gempa pada pertengahan Agustus 2026, sebanyak 1.301 warga masih tinggal di 17 posko pengungsian, sementara 7.091 warga lainnya mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di dekat rumah mereka.
Dari total tersebut, Pemkab mencatat bahwa sebanyak 1.054 jiwa termasuk dalam kategori kelompok rentan yang memerlukan perhatian lebih.
➡️ Baca Juga: Kerusuhan Pasca-Demo DPR: 1 Tewas dan 45 Tersangka, Komnas HAM Bertemu Wakapolri
➡️ Baca Juga: Macan Tutul Masuk Permukiman Warga Cisarua, Terjebak dan Dievakuasi oleh Tim Berwenang




