100 Jam Serangan Iran Menguras Dompet AS Hingga Rp98 Triliun

Perang yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran telah menyebabkan pengeluaran negara mencapai angka yang sangat besar.
Menurut data yang dihimpun Anadolu, AS telah mengeluarkan sekitar $5,82 miliar (setara dengan Rp98 triliun) untuk mendukung operasi militer yang dilakukan dalam 100 jam pertama. Jumlah ini mencerminkan sekitar 0,69% dari total anggaran pertahanan AS untuk tahun 2026.
Dalam 24 jam pertama dari serangan tersebut, diperkirakan AS menghabiskan sekitar $779 juta (sekitar Rp13 triliun), sebuah angka yang sangat signifikan.
Seiring berlanjutnya operasi, total biaya yang dikeluarkan untuk serangan ini telah mencapai sekitar $3,3 miliar (Rp55 triliun). Angka tersebut sejalan dengan estimasi dari Center for Strategic and International Studies yang menunjukkan total pengeluaran yang serupa.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa selama 24 jam pertama serangan terhadap Iran, anggaran yang terpakai oleh militer AS mencapai sekitar $779 juta (sekitar Rp13 triliun), yang merupakan sekitar 0,1% dari seluruh anggaran pertahanan AS tahun 2026, sesuai dengan data yang diakumulasi oleh Anadolu.
Komando Pusat Operasi (CENTCOM) AS mengonfirmasi bahwa pengerahan alat perang yang melibatkan pesawat pembom siluman B-2, jet tempur F-22, F-35, dan F-16, serta pesawat serang A-10 dan pesawat perang elektronik EA-18G, merupakan bagian dari operasi besar ini.
Operasi ini juga melibatkan penggunaan drone MQ-9 Reaper, kapal induk bertenaga nuklir, kapal perusak rudal berpemandu, serta sistem pertahanan rudal seperti Patriot dan THAAD.
Empat pesawat pembom B-2 beroperasi tanpa henti dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman yang terletak di Missouri, menyerang target menggunakan amunisi serang langsung gabungan (Joint Direct Attack Munitions/JDAM) seberat 2.000 pon (907 kilogram), sebagaimana dilaporkan oleh CENTCOM.
Pesawat B-2 ini dikenal karena biaya perawatannya yang tinggi dan kapasitas muatannya mencapai 40.000 lb (18.143 kg). Biaya operasi untuk pesawat B-2 saja diperkirakan mencapai $30,2 juta (Rp510 miliar), berdasarkan analisis jam terbang, biaya pemeliharaan, dan penggunaan amunisi sesuai dengan permintaan anggaran Departemen Pertahanan AS untuk tahun 2025 dan 2026.
Penggunaan berbagai jet tempur seperti F-18, F-16, F-22, dan F-35 oleh CENTCOM juga berkontribusi pada serangan awal. Menurut data terkait jam terbang, biaya pemeliharaan, dan penggunaan amunisi dari permintaan anggaran Departemen Pertahanan AS tahun 2025 dan 2026, biaya untuk operasi ini diperkirakan mencapai $271,34 juta (sekitar Rp4,5 triliun).
➡️ Baca Juga: Jadwal Buka Puasa Ramadhan Kamis 5 Maret 2026 untuk Jakarta dan Sekitarnya
➡️ Baca Juga: Aktivis Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Tekanan Inflasi




