IHSG Anjlok ke 7.129 akibat Melemahnya Rupiah yang Menimbulkan Kekhawatiran Pasar

IHSG terus terjerembab dalam tren penurunan menjelang akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,38 persen atau 249,12 poin, berakhir pada level 7.129,49 di penutupan perdagangan pada Jumat, 24 April 2026.
Pergerakan IHSG menunjukkan penurunan sejak pembukaan pasar, di mana indeks langsung terjun ke level 7.324. Meskipun sempat mengalami rebound ke posisi 7.366, IHSG justru kembali terkoreksi lebih dalam dan bahkan mencapai level terendah 7.120 pada akhir sesi perdagangan hari itu.
Setiap sektor saham mengalami penurunan yang signifikan, dengan sektor konsumer siklikal memimpin kerugian dengan penurunan mencapai 4,27 persen. Sektor energi juga terpaksa mengalami ambruk hingga 4,22 persen, diikuti sektor infrastruktur yang turun 4,08 persen. Sektor properti melemah 3,89 persen, sementara sektor industri dan transportasi masing-masing menyusut 3,47 persen dan 3,31 persen. Sektor konsumer non-siklikal juga tidak luput dari penurunan, jatuh 3,08 persen.
Selain itu, sektor bahan baku mengalami penurunan sebesar 2,76 persen, kemudian sektor teknologi tergerus 2,63 persen. Sektor keuangan juga tidak terhindarkan dari penurunan dengan angka 2,27 persen, diikuti sektor kesehatan yang jatuh 1,52 persen.
Analis dari Phintraco Sekuritas menilai bahwa penurunan ini disebabkan oleh kekhawatiran yang semakin meningkat terkait prospek ekonomi Indonesia, terutama di tengah tingginya harga minyak mentah dan depresiasi nilai tukar Rupiah yang ditutup menguat 0,33 persen di level Rp17.229 per dolar AS di pasar spot.
Ketidakpastian geopolitik yang muncul akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz turut memengaruhi pasar, di mana harga minyak mentah diperkirakan akan tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun ada perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu, hal tersebut tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran di kalangan investor.
Analis Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa keraguan investor semakin meningkat mengenai kemungkinan AS dan Iran kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat, terutama dengan situasi yang semakin tegang di sekitar Selat Hormuz.
Dari sudut pandang teknikal, analis mencatat bahwa IHSG telah mengalami breakdown dari level MA20. Histogram positif MACD menunjukkan penyempitan dan berpotensi membentuk pola Death Cross, dengan gap down IHSG yang terlihat di sekitar level 7.022.
Meskipun IHSG terjatuh hingga menyentuh level 7.100, beberapa emiten di dalam jajaran saham unggulan (LQ45) masih mampu mencatatkan kenaikan tipis di akhir perdagangan hari itu. Beberapa saham yang menjadi top gainers di LQ45 menunjukkan kinerja yang lebih baik meskipun pasar secara keseluruhan mengalami tekanan.
➡️ Baca Juga: Nasib 16 Mahasiswa Terkait Kasus Pelecehan Seksual di UI Ditentukan oleh Satgas
➡️ Baca Juga: Panduan Praktis Memulai Short-Term Trading Saham dengan Modal Minimal yang Aman




