Harga Minyak Dunia Diprediksi Mencapai Rp2,5 Juta per Barel Jika Selat Bab el-Mandeb Terganggu

Harga minyak dunia menjadi perhatian utama berbagai pelaku pasar seiring dengan terus berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Dalam konteks tren kenaikan harga energi global, proyeksi menunjukkan bahwa harga minyak mentah dapat melonjak lebih tinggi dalam waktu dekat, bahkan diperkirakan mencapai level US$150 atau sekitar Rp 2,5 juta (berdasarkan asumsi kurs Rp 17.000 per dolar AS) per barel.
Potensi lonjakan harga ini muncul seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, di mana banyak pengamat berpendapat bahwa gangguan terhadap pasokan energi global semakin meluas. Khususnya, jika jalur pelayaran strategis lainnya di kawasan Timur Tengah juga terpengaruh oleh situasi konflik yang berlangsung.
Michael Haigh, seorang analis dari Societe Generale, menyatakan bahwa risiko terbesar bukan hanya berasal dari Selat Hormuz, tetapi juga jika terjadi gangguan di Selat Bab el-Mandeb. Jalur pelayaran yang vital ini menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah, dan gangguan di sana bisa berakibat serius bagi pasar minyak dunia.
Setiap hari, sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak melewati Selat Bab el-Mandeb. Oleh karena itu, jika gangguan pasokan di perairan tersebut semakin parah, harga minyak dunia dapat meroket jauh lebih tinggi, dan akan ada penyesuaian harga yang signifikan pada bulan April mendatang.
Tim Analis di Societe Generale memperkirakan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan di Timur Tengah bisa mendorong harga minyak mencapai level US$150 per barel pada bulan April 2026. Hal ini terutama berlaku jika jalur pelayaran seperti Bab el-Mandeb atau Selat Hormuz mengalami gangguan yang serius.
“Memasuki bulan April kini, kita akan melihat beragam penyesuaian yang terjadi. Namun, jika kita menarik empat juta barel lagi dari Laut Merah, di atas jumlah yang sudah ada, maka harga minyak pada titik ini akan melonjak jauh lebih tinggi,” ungkap Haigh dalam wawancaranya dengan CNBC Internasional pada 31 Maret 2026.
Sebagai informasi tambahan, Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan energi yang paling krusial di dunia, menghubungkan Timur Tengah dengan Eropa melalui Terusan Suez. Gangguan yang terjadi di jalur ini dapat memperburuk krisis pasokan global dan mendorong lonjakan harga energi secara signifikan.
Berdasarkan laporan dari berbagai analis, lonjakan harga energi saat ini dipicu oleh eskalasi konflik yang telah memasuki pekan kelima antara AS, Israel, dan Iran. Ketegangan yang meningkat ini menambah kekhawatiran di pasar akan kemungkinan gangguan dalam pasokan energi global.
➡️ Baca Juga: IHSG Meningkat Melebihi 7.600 Berkat Lonjakan Kinerja Emiten Terkemuka
➡️ Baca Juga: Olahraga Low Impact: Pilihan Aman untuk Melindungi Sendi Pemula dan Aktivitas Sehari-hari




