Rachel Vennya Ungkap Fakta Menarik: Okin Diklaim Tidak Berikan Nafkah Anak Pasca Cerai

Kisah perceraian antara Rachel Vennya dan Niko Al Hakim, yang akrab dipanggil Okin, kembali menarik perhatian publik. Kali ini, Rachel mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka mengenai tanggung jawab mantan suaminya terhadap anak-anak mereka setelah perpisahan yang terjadi pada tahun 2021.
Dalam pernyataannya, Rachel tidak dapat menyembunyikan emosinya. Ia menegaskan bahwa Okin tidak memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah untuk anak-anak setelah mereka resmi berpisah. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai isu ini.
Awalnya, Rachel menjelaskan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan tertentu. Dalam kesepakatan tersebut, Okin dikatakan akan memberikan rumah yang mereka tinggali sebelumnya sebagai solusi, sehingga ia tidak perlu lagi memberikan nafkah secara rutin untuk anak-anak mereka.
Namun, keadaan berubah ketika Okin mengungkapkan niatnya untuk menjual rumah yang dianggap sebagai “solusi” itu, meskipun rumah tersebut masih ditempati oleh adik-adik Rachel. Situasi ini membuat Rachel merasa sangat dikhianati dan kecewa dengan keputusan mantan suaminya.
“Di awal perjanjian, aku memberikan rumah yang dia sebut sebagai #rumahuntukbiru. Dia seharusnya hanya bertanggung jawab dalam memberikan nafkah dan uang mut’ah. Namun, kenyataannya, nafkah tidak diberikan, kesepakatan ini lebih menguntungkan dirinya, karena dengan memberikan rumah itu, dia bisa lepas dari tanggung jawab untuk menafkahi anak-anak,” ungkap Rachel melalui siaran di Instagramnya pada Kamis, 2 April 2026.
“Ketika aku kembali ke rumah, kondisinya sudah rusak akibat pemakaian Okin. Kami pun melakukan renovasi agar adik-adikku bisa tinggal dengan nyaman. Namun sekarang, karena tidak ada perjanjian resmi, dia berencana untuk menjual rumah tersebut, sementara adik-adikku masih tinggal di sana. Tanpa pemberitahuan, sudah ada orang yang datang untuk mengukur rumah itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa terjebak. Orang yang seharusnya menjadi sahabatku kini berubah menjadi mimpi buruk,” tambahnya.
Kekecewaan Rachel semakin mendalam karena ia merasa telah berusaha keras untuk memperbaiki keadaan rumah demi kenyamanan anak-anaknya. Tanpa adanya perjanjian tertulis, posisi hukum yang dimilikinya menjadi sangat lemah.
“Sejak awal seharusnya tidak perlu ada rumah tersebut. Aku sudah terbiasa membeli kebutuhan sendiri. Namun, kini semuanya menjadi rumit. Jika harus melalui jalur hukum, itu hanya berdasarkan kepercayaan. Aku merasa bodoh karena masih mempercayai omongan mantan suami. Sekarang, aku yang harus menghadapi semua ini. Ketika rumah itu untuk anakku, aku yang harus bekerja keras untuk mereka. Rasanya sangat menyedihkan,” tuturnya dengan nada penuh emosi.
➡️ Baca Juga: Dapatkan Penghasilan Online dengan Menawarkan Jasa Pengelolaan Sistem Kerja Digital
➡️ Baca Juga: Menlu Sugiono Mendorong UNIFIL untuk Lakukan Investigasi Menyeluruh atas Kematian Prajurit TNI di Lebanon




