BRIN Mengungkapkan Kondisi Gelombang dan Arus Laut Saat Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengumumkan hasil analisis terkait kondisi gelombang, pasang surut, dan arus laut pada saat hilangnya kontak kapal KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa, yang terjadi pada Minggu, 13 September, sekitar pukul 01.00 WIB.
Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan bahwa analisis tersebut menunjukkan bahwa keadaan laut di lokasi kejadian tergolong bergelombang.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa tinggi gelombang saat insiden tersebut berada dalam kategori sedang dan tidak termasuk dalam kategori gelombang ekstrem.
“Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang kami gunakan, nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang (1,25–2,50 meter). Kategori tinggi dimulai dari 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi berada pada 4 meter,” imbuhnya.
Ia juga menyatakan bahwa gelombang pada malam kejadian didominasi oleh gelombang yang dihasilkan oleh angin lokal, yang berkontribusi sekitar 96 persen dari tinggi total gelombang, bukan gelombang jauh atau swell yang berasal dari lokasi lain.
“Berdasarkan karakteristik gelombang dan periode yang teramati, kecepatan angin permukaan diperkirakan berada pada kisaran 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot, yang sesuai dengan kategori Beaufort 4–5,” tuturnya.
Widodo mengungkapkan bahwa gelombang datang dari arah tenggara-timur, sekitar 122 derajat. Hal ini berarti gelombang mengenai kapal dari sisi samping atau beam seas, yang dapat mengakibatkan kapal bergetar secara berulang.
Analisis dinamika kapal memperkirakan bahwa periode gelombang berkisar antara 5,66–6,47 detik, sementara periode alami goyangan kapal yang berukuran panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada kisaran 11–18 detik, berdasarkan parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian ini.
Perbedaan periode ini menunjukkan bahwa tidak terjadi resonansi atau penguatan goyang pada skenario yang dianalisis.
Dengan parameter yang ada, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan mencapai 5,9 derajat dalam kondisi normal, dan 11,2–11,9 derajat pada saat gelombang tertinggi. Sementara itu, kontribusi angin terhadap kemiringan kapal diperkirakan kurang dari setengah derajat.
“Nilai-nilai ini masih berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat, yang dalam kajian kami digunakan sebagai indikator awal untuk kemungkinan masuknya air melalui bukaan geladak. Angka tersebut juga jauh di bawah kisaran 50–60 derajat, yang dapat mengindikasikan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak,” jelasnya.
Selain melakukan analisis kondisi gelombang, Widodo menambahkan bahwa kajian ini menghasilkan temuan yang dapat menjadi dasar bagi operasi pencarian lebih lanjut.
➡️ Baca Juga: Latihan Fisik di Bulan Desember Meningkatkan Fokus dan Energi Sehari-hari
➡️ Baca Juga: Rockstar Tegaskan Tidak Ada Penundaan GTA 6 Akibat Kerusakan Fitur




