Pertamina Menjamin Sumber Minyak Mentah RI Melalui Alternatif Impor dari Afrika

Jakarta – Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), mengungkapkan bahwa negara-negara di benua Afrika akan dijadikan sebagai alternatif sumber minyak mentah untuk Indonesia. Langkah ini diambil seiring dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pertamina bersama pemerintah selalu berusaha untuk menemukan alternatif sumber energi yang bisa diandalkan, termasuk dari negara-negara yang sebelumnya telah menjadi mitra impor, seperti negara-negara di Afrika dan lainnya,” ujar Baron di Jakarta, pada hari Kamis, 16 April 2026.
Dia menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menyebutkan perlunya mencari alternatif sumber minyak mentah, terutama selama penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang sedang berlangsung.
Baron menambahkan bahwa Pertamina berkomitmen untuk menjamin ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan gas LPG bagi masyarakat serta sektor industri.
“Kami secara terus menerus memantau situasi global yang berkembang. Koordinasi intensif dengan pemerintah juga dilakukan untuk memastikan bahwa LPG dan BBM tetap dapat diakses oleh seluruh masyarakat,” jelas Baron.
Dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina terus melakukan pencarian terhadap sumber energi yang paling optimal untuk disuplai kepada masyarakat.
“Semua potensi sumber sedang kami eksplorasi, termasuk melakukan impor dari berbagai negara, tidak hanya dari Afrika,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menginformasikan bahwa sekitar 20 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah telah menyiapkan rencana untuk mencari alternatif pasokan dari negara lain sebagai respons terhadap ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Negara-negara seperti Angola, Brasil, Amerika Serikat, dan Rusia juga menjadi perhatian.
Pada pertengahan April 2026, Bahlil terlibat dalam negosiasi untuk pengadaan minyak mentah dan LPG dari Rusia. Pertemuan tersebut berlangsung dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, di Rusia pada Selasa, 14 April 2026.
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Sarung Tangan Kiper dengan Grip yang Sangat Kuat dan Tahan Lama
➡️ Baca Juga: Kolaborasi Moratelindo dan TKMT Dorong Keamanan Jaringan Bisnis




