Kasus Pelecehan Marak di Universitas, Golkar Serukan Evaluasi Pimpinan Perguruan Tinggi

Jakarta – Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI, M. Sarmuji, mengungkapkan kekhawatiran dan kemarahan yang mendalam terhadap meningkatnya kasus pelecehan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Fenomena ini kembali mencuat pada April 2026, menandakan bahwa situasi ini semakin mendesak untuk diperhatikan.
Berbagai insiden yang terjadi di sejumlah institusi, seperti Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Padjadjaran, Universitas Budi Luhur, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, hingga Institut Teknologi Bandung, mengindikasikan bahwa kampus tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa. Realitas ini sangat mengkhawatirkan, terutama mengingat peran pendidikan tinggi dalam membangun karakter dan kepribadian yang positif.
Sarmuji menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar melibatkan satu atau dua individu. Ia menyebutkan bahwa situasi ini adalah sinyal yang jelas bahwa kampus telah gagal dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai lingkungan pendidikan yang aman. Jika pelecehan terus terjadi di berbagai institusi, hal ini menunjukkan adanya masalah mendasar dalam sistem, di mana pimpinan kampus tidak berhasil menciptakan suasana yang melindungi mahasiswa dari segala bentuk kekerasan.
Mahasiswa sering kali berada dalam posisi yang rentan ketika berhadapan dengan otoritas kampus, seperti rektor, dekan, dan dosen. Ketidakberdayaan ini membuat banyak korban memilih untuk tidak bersuara dan menerima keadaan. Sarmuji menekankan bahwa ketimpangan ini, jika tidak ditangani dengan serius, akan terus memperkuat praktik kekerasan seksual di lingkungan akademik.
“Ketika perlindungan dari institusi tidak ada, kampus justru berubah menjadi tempat yang menakutkan, bukan sebagai tempat untuk belajar dan berkembang,” tambahnya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perlindungan terhadap mahasiswa harus menjadi prioritas utama bagi setiap perguruan tinggi.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar tersebut juga menyoroti bahwa kasus-kasus pelecehan ini bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat telah dikejutkan oleh berbagai laporan mengenai kekerasan seksual di sejumlah universitas terkenal di Indonesia.
Namun, pola yang berulang ini tanpa adanya upaya perbaikan yang berarti menunjukkan lemahnya komitmen institusi dalam melakukan perubahan yang mendalam. Kurangnya tindakan nyata untuk menangani masalah ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keseriusan perguruan tinggi dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan mahasiswanya.
“Kita tidak bisa lagi menganggap remeh kejadian seperti ini. Setiap insiden adalah cerminan kegagalan dari institusi,” ujar Sarmuji. Pernyataan ini mencerminkan betapa pentingnya bagi setiap pihak untuk menyadari bahwa setiap kasus pelecehan adalah tantangan yang harus diatasi dengan segera.
Ia juga menambahkan bahwa masalah kekerasan seksual di kampus harus dipandang sebagai sebuah fenomena yang lebih besar dari apa yang terungkap di permukaan. Sarmuji menggambarkan situasi ini sebagai puncak gunung es, di mana apa yang terlihat hanya sebagian kecil dari permasalahan yang sebenarnya terjadi di dalam lingkungan akademik.
Fraksi Partai Golkar mendorong agar ada kebijakan yang lebih tegas terkait masalah ini, termasuk kemungkinan untuk memberikan sanksi kepada pimpinan perguruan tinggi yang terbukti gagal dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman bagi mahasiswa. Pendekatan ini diharapkan dapat memicu perubahan positif dalam upaya melindungi mahasiswa dari kekerasan seksual.
➡️ Baca Juga: Harga iPhone 16 Series di Indonesia Naik, Ini Rinciannya
➡️ Baca Juga: Bakrie Sumatera Plantations Raih Laba Operasi Sebesar Rp 388 Miliar




