Trump Terlibat Ketegangan di Gedung Putih, Parlemen AS Mendorong Proses Pemakzulan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan mengalami kemarahan yang meluap-luap di Gedung Putih selama berjam-jam, menimbulkan tekanan dari berbagai anggota parlemen AS untuk mengaktifkan kembali amandemen ke-25. Situasi ini terjadi di tengah krisis yang muncul akibat konfrontasi dengan Iran.
Beberapa sumber media menyebutkan bahwa Trump sengaja tidak diundang dalam pengarahan tingkat tinggi mengenai operasi penyelamatan dua pilot militer AS yang baru saja ditembak jatuh di Iran. Menurut laporan dari presstv.ir pada tanggal 21 April 2026, keputusan untuk tidak melibatkan Trump diambil karena staf khawatir terhadap perilaku emosionalnya yang tidak stabil, sehingga mereka lebih memilih untuk memberikan informasi tersebut secara bertahap.
Sumber dari dalam Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump berteriak kepada stafnya, terutama terkait lonjakan harga bahan bakar yang terjadi. Ia juga terus-menerus mengingat kembali krisis penyanderaan di Iran yang terjadi pada tahun 1979. Informasi tambahan menunjukkan bahwa Trump merasa cemas bahwa kegagalan operasi militer di Iran akan berdampak negatif pada karir politiknya di masa mendatang.
Dalam situasi tersebut, Trump beberapa kali menyebutkan kegagalan operasi militer yang terjadi pada masa kepemimpinan Jimmy Carter, menekankan betapa pentingnya kesuksesan militer bagi seorang presiden.
“Melihat apa yang terjadi pada Jimmy Carter, dengan insiden helikopter dan penyanderaan itu benar-benar merugikan mereka dalam pemilu. Ini sangat kacau,” ujar Trump dalam pernyataannya pada Maret lalu.
Anggota Kongres dari New York, Dan Goldman, memberikan tanggapan tegas terhadap situasi yang berkembang. Ia menilai sangat masuk akal jika Trump tidak dilibatkan dalam pengarahan operasi penyelamatan pilot AS yang ditembak jatuh di Iran. Goldman juga mendesak agar Amandemen ke-25 segera diaktifkan.
“Panglima tertinggi tidak terlibat dalam operasi militer karena bertindak tidak rasional. Bayangkan, Trump tidak dalam kondisi yang baik. Kita memerlukan Amandemen ke-25 sebelum terjadi hal buruk di AS,” tulisnya di media sosial.
Peristiwa ini terjadi ketika Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat, yang dipimpin oleh Jamie Raskin, semakin gencar mendorong pembentukan komisi berdasarkan Amandemen ke-25.
Usulan tersebut berlandaskan pada apa yang mereka sebut sebagai perilaku Trump yang tidak stabil, termasuk ancaman yang berlebihan, kebijakan luar negeri yang dinilai sembrono, serta berbagai pernyataan dan tindakan kontroversial lainnya.
➡️ Baca Juga: Aplikasi Viral yang Efektif untuk Mengelola Informasi Pribadi dengan Aman
➡️ Baca Juga: Mobil Berteknologi Hidrogen Ini Menawarkan Jarak Tempuh Mencapai 620 Km




