depo 10k depo 10k

Super scatter mengusung konsep grafis dinamis dengan tampilan modern

PGSoft berikan bagi-bagi bonus cosmic lightning parade dengan sensasi baru

Super scatter bagikan hadiah kemerdekaan scatter prosper adventure dengan peluang menarik

Transformasi teknologi global mahjong ways membantu memahami studi evolusi big data berbasis ai

Starlight princess menggabungkan unsur bintang dan fantasi

Starlight princess dan perjalanan popularitasnya di komunitas mbg

PGSoft berikan bagi-bagi bonus eternal lightning parade dengan sensasi baru

Ulasan slot online playtech dengan variasi pola dan server teruji

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus zeus star adventure dengan hadiah berlimpah

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden glory adventure dengan hadiah berlimpah

Super scatter hadirkan bagi-bagi kejutan lucky jewel path dengan hadiah melimpah

Super scatter mengusung tampilan cerah dengan konsep grafis yang dinamis

Starlight princess menyuguhkan pemandangan galaksi dengan gaya fantasi

Ulasan teknis mengapa game grid sangat populer

PGSoft berikan bagi-bagi bonus ruby lightning parade dengan sensasi baru

Wild Bounty hadirkan bagi-bagi kejutan lucky glory parade dengan kejutan istimewa

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden star adventure dengan hadiah berlimpah

Wild Bandito dan pengalaman bermain yang dibagikan komunitas mbg

bisnis

80 Persen Pekerja Menolak Penggunaan AI di Kantor, Apa Penyebabnya?

Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau AI dipandang sebagai sebuah revolusi yang dapat mengubah wajah dunia kerja. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan pola yang berbeda dari harapan awal.

Alih-alih mendapatkan sambutan positif, banyak pekerja malah menunjukkan sikap resistensi terhadap penerapan AI di lingkungan kerja mereka.

Sebuah studi global terbaru dari anak perusahaan SAP, yang dilakukan melalui WalkMe, melibatkan 3.750 pekerja dan eksekutif dari 14 negara. Hasilnya cukup mengejutkan: lebih dari 54 persen pekerja lebih memilih untuk menghindari penggunaan alat AI yang disediakan perusahaan dalam sebulan terakhir, memilih untuk menyelesaikan pekerjaan secara manual.

Menariknya, 33 persen dari mereka sama sekali tidak menggunakan AI. Dengan demikian, hampir 8 dari 10 pekerja di sektor enterprise secara aktif menghindari atau menolak teknologi yang telah dibeli oleh perusahaan mereka.

Fenomena ini jelas berbeda dari beberapa tahun lalu ketika “shadow AI” meningkat pesat. Dalam laporan tersebut, diungkapkan bahwa banyak karyawan secara diam-diam menggunakan chatbot seperti ChatGPT dan Claude untuk mempercepat proses kerja mereka.

Sebuah penelitian dari MIT menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen pekerja di perusahaan-perusahaan menggunakan akun chatbot pribadi tanpa izin, sementara hanya 40 persen perusahaan yang memberikan langganan resmi untuk model bahasa besar (LLM). Saat itu, banyak pekerja menganggap ini sebagai solusi untuk menyelesaikan tugas, bukan pelanggaran.

Namun, kini situasinya berubah drastis. Ketakutan akan dampak negatif dari AI membuat sejumlah pekerja memilih untuk menghentikan penggunaan teknologi tersebut. Hanya 9 persen dari mereka yang merasa percaya bahwa AI dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan bisnis yang kompleks, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan 61 persen eksekutif, menciptakan kesenjangan kepercayaan yang signifikan sebesar 52 poin.

Dalam laporan yang sama, ditemukan bahwa 88 persen eksekutif meyakini bahwa pekerja sudah memiliki alat yang cukup untuk melakukan pekerjaan mereka. Namun, hanya 21 persen pekerja yang setuju dengan pernyataan tersebut. Hal ini menciptakan dua realitas yang berbeda di dunia kerja.

Ekonom Steve Hanke dari Johns Hopkins University menunjukkan keraguan terhadap efektivitas AI. “AI tidak memberikan hasil yang diharapkan,” ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan Fortune.

“Selamat datang di dunia nyata. Lupakan semua kesan positif tentang AI. Anda tahu, teknologi ini tidak memberikan hasil yang signifikan. Meskipun ada banyak survei yang menunjukkan penggunaan AI, jika diteliti lebih dalam, manfaatnya tidak sebanding,” tegasnya.

Sementara itu, CEO WalkMe, Dan Adika, menjelaskan bahwa permasalahan yang ada tidak hanya terkait dengan teknologi itu sendiri, tetapi juga dengan kemampuan para pekerja. “Kami bisa memberikan setiap karyawan mobil sport, seperti Ferrari, namun jika mereka tidak tahu cara mengemudikannya, itu tidak ada gunanya. Dalam beberapa kasus, mereka juga tidak memiliki ‘bahan bakar’ yang diperlukan, yaitu konteks. Cara untuk mengemudikan mobil itu adalah dengan memberikan instruksi yang tepat,” jelasnya.

➡️ Baca Juga: Tren Game Edukasi yang Wajib Kamu Coba

➡️ Baca Juga: Keterampilan Branding Digital untuk Membangun Citra Profesional dan Meningkatkan Kepercayaan Pasar

Related Articles

Back to top button